Kiyai Jateng Kumpul Bahas Hubungan NU – PKB

Semarang - Puluhan kiai se-Jawa Tengah akan berkumpul dan membahas hubungan antara Nahdlatul Ulama (NU) dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Pondok Pesantren Al Islah Mangkang Kulon, Kota Semarang pada 16 Februari 2012.

“Halaqoh” atau diskusi yang mengambil tema “NU, PKB, dan Bangsa” tersebut mengundang para kiai dan gus dari 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah, demikian keterangan dari Ketua PWNU Jawa Tengah, Muhammad Adnan, di Semarang, Selasa.

Diskusi yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng ini bertujuan agar para kiai memahami dan mengerti hubungan NU dengan partai, khususnya PKB.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Islah, KH Hadlor Ihsan, selaku tuan rumah ketika dikonfirmasi membenarkan rencana “halaqoh” itu. “Dalam pertemuan nanti cukup lesehan saja. Sudah banyak yang menyatakan akan hadir,” katanya.

Disebutkan pihaknya mengundang 57 kiai NU, kiai yang duduk di struktural NU dan PKB serta gus-gus, seperti KH Ahmad Sa’id Asrori (Kabupaten Magelang), KH Ubaidillah Sodaqoh (Semarang), KH Wahib Mahfid (Kebumen), Habib Hasan Aqil Baabud (Purworejo), dan KH Syu’ada Adzikya (Cilacap),

“Hubungan antara NU dengan PKB tidak hanya bersifat kesejarahan, tapi juga merupakan simbiosis karena perjuangan kepentingan ideologis, sosial, dan ekonomi NU, tidak mungkin hanya diperjuangkan oleh NU sendiri,” kata Adnan.

Oleh karena itu, katanya, kader kader NU yang ada di PKB harus memahami tentang kepentingan agenda sosial dan ekonomi NU.

Dalam “halaqoh” nanti bakal dibahas hubungan NU dengan partai, khususnya PKB, yang fluktuatif karena terkadang kepentingan partai lebih menonjol sehingga melupakan kepentingan NU, namun ada kalanya kepentingan NU tidak tersalurkan dengan baik melalui partai.

Oleh karena itu, Adnan berharap PKB dan NU mampu memahami posisinya dan sudah menjadi kewajiban kader NU yang ada di partai — tidak hanya mengerti dan saling klaim –, tapi juga memperjuangkan.

“Ada situasi yang memang orang elite partai perlu mengerti, mendengar, dan menindaklanjuti keinginan para kiai. Gambaran situasi ekonomi dan politik saat ini menuntut kepekaan mereka yang sudah jadi elite partai,” kata Adnan yang juga dosen FISIP Undip Semarang itu.

Menyinggung digelarnya Musyawarah Wilayah PKB Jateng pada 26 Februari mendatang, ia berharap kepemimpinan PKB ke depan tidak hanya mengklaim mempunyai historis dengan NU, tetapi mampu memahami dan bersedia untuk menindaklanjuti kepentingan-kepentingan ideologi, sosial, dan ekonomi NU.

Tindak lanjut itu bisa melalui jalur struktural maupun jalur kultural kiai-kiai yang memiliki pondok pesantren.

“Itu perlu dan penting, supaya para kiai tidak minder. Karena pada dasarnya mereka sebenarnya mempunyai posisi sosial yang strategis, daya tawar yang lebih, dan mempunyai akses lebih. Namun kadang mereka tidak mengerti. Oleh karena itu dibutuhkan kepemimpinan yang peduli dan kuat serta tidak acuh terhadap situasi tersebut. Itu harga mati,” jelasnya.

Adnan menjelaskan sekuat apa pun partainya, kalau kepeminpinannya lemah maka partai akan menjadi lemah secara kelembagaan.

“Dia akan lemah. Sebagus apa pun kebijakan dimunculkan, kalau tidak diimbangi kepemimpinan yang memadai, tidak akan bisa terwujud kebijakan-kebijakan itu,” katanya.

Adnan berharap kepemimpinan PKB akan dipegang oleh pemimpin yang berpengalaman serta cepat dalam menampung aspirasi warga nahdliyin. Untuk diaplikasi dan diaktualisasikan kebijakanya dilapangan dengan secara cepat.
(*)  (ANTARA News)

Editor: Suryanto

Leave a Reply

Copyright © 2012 DPC PKB Majalengka · All rights reserved ·
Sekretariat : Jalan Suha Nomor 204 Majalengka Telp (0233) 283326 email : pkb.majalengka@yahoo.com